Melihat plakat yang dibawa pemuda tersebut, Wajah Chen Xue tetap tenang, tapi pikirannya bergerak cepat. Sebagai pemilik bisnis yang berpengalaman, dia dapat menyesuaikan diri dengan cepat, dengan memperhitungkan keuntungan dan kerugian yang bisa di terimanya. Ia mendekat dan tanpa menarik perhatian orang lain, berbisik kepada Huo Tao.

"Tuan Muda Huo, saya sarankan kita tidak mencari masalah lebih jauh."

Huo Tao mengernyit. "Apa maksudmu? Wanita ini harus jadi milikku!"

Chen Xue tersenyum, tetap bersikap halus. "Paviliun Seribu Rasa menghargai semua pelanggannya, terutama pelanggan setia seperti Anda. Bagaimana jika saya menawarkan sesuatu yang lebih baik?"

Mata Huo Tao menyipit. "Apa itu?"

Chen Xue tersenyum lembut. "Saya akan mengundang Anda ke lantai tiga, di mana makanan dan pelayanan kami jauh lebih istimewa. Anda bisa menikmati hidangan terbaik kami beserta semua fasilitasnya, dan tentu saja, semua akan kami sajikan secara gratis sebagai bentuk penghormatan kami kepada Anda."

Mendengar kata "gratis" dan "fasilitas", Huo Tao langsung tergoda. Meski masih marah pada Lynx, godaan menikmati fasilitas eksklusif membuatnya berpikir ulang. Meski dia tidak kekurangan uang, tetapi banyaknya nominal yang harus dikeluarkan untuk menikmati fasilitas khusus di lantai tiga, membuatnya harus berhati-hati atau keluarganya akan memarahinya.

Fasilitas yang dimaksud tentu saja ditemani oleh pelayan-pelayan pilihan yang sangat cantik dan profesional.

"Aku bisa kapan saja berurusan dengan pemuda ini, dan merebut wanitanya. Tapi kapan lagi bisa mendapatkan fasilitas menggiurkan secara gratis." batin Huo Tao dengan pikiran mesumnya.

"Baik," katanya akhirnya, mendongak sombong ke arah Lynx. "Tapi anggap saja kau beruntung hari ini! Karena menghargai nyonya Chen Xue sebagai pemilik rumah makan ini, dan tidak ingin menolak kebaikannya, aku akan melepaskanmu kali ini!"

Chen Xue lalu menoleh ke Lynx dengan senyum sopan. "Tuan, bagaimana dengan Anda? Saya juga bisa menyediakan hidangan yang lebih baik di lantai tiga untuk Anda."

Namun, Lynx hanya tersenyum tipis. "Tidak perlu. Kami akan tetap di sini. Yang saya inginkan hanyalah bisa makan dengan tenang tanpa gangguan."

Chen Xue sedikit terkejut dengan jawabannya, tapi ia tidak memaksa. "Baiklah. Jika ada yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk memanggil saya."

Ia kemudian memberi isyarat pada pelayan agar segera membersihkan kekacauan yang terjadi dan menyajikan semua pesanan Lynx dan Jelita tanpa ada pengurangan. Setelah itu, ia memerintahkan pelayannya untuk mengantar Huo Tao dan rombongannya ke lantai tiga.

Sebelum pergi, Huo Tao melirik Jelita dengan tatapan penuh keinginan. "Aku akan mendapatkanmu, cepat atau lambat."

Setelah mereka pergi, Chen Xue kembali menoleh ke Lynx.

"Saya belum pernah melihat Anda sebelumnya. Bolehkah saya tahu nama Anda?" tanyanya dengan senyum ramah.

Lynx tidak ingin diganggu, namun tidak ingin bersikap tidak sopan, "Saya Xiao Ling, terimakasih atas bantuan dan keramahan nyonya Chen."

Chen Xue terdiam sejenak."Xiao Ling? Aku tidak pernah mendengar nama itu. Apa hubungan yang dimilikinya dengan komandan Jiang?" batinnya.

Chen Xue akhirnya tersenyum tipis. "Baiklah. Saya akan kembali sekarang. Silahkan menikmati hidangannya."

Ia berbalik dan berjalan pergi, tetapi begitu sampai di ruang pribadinya di lantai tiga, senyumnya menghilang.

Dengan gerakan cepat, ia memanggil salah satu orang kepercayaannya.

"Ikuti pemuda itu. Cari tahu siapa dia, apa hubungannya dengan Komandan Jiang, dan semua yang dia lakukan selama di kota Houling," perintahnya dengan suara dingin.

Orang kepercayaannya mengangguk dan segera menghilang dari ruangan.

Chen Xue menatap ke luar jendela, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. Siapa sebenarnya pemuda itu?

Tak lama setelah keributan mereda, aroma sedap mulai menyebar ke seluruh ruangan. Seorang pelayan pria, yang dikenali Jelita sebagai pelayan yang sejak awal melayani dirinya dan Lynx dengan ramah, datang membawa nampan besar dengan berbagai hidangan mewah.

Di atas meja, ia mulai menyusun piring demi piring, menampilkan hidangan yang luar biasa menggugah selera. Ada Sup Ekor Naga Berapi, yang kuahnya berwarna merah keemasan dengan aroma rempah yang kuat, Bebek Kristal Seribu Rasa, dengan kulit yang renyah berkilau seperti kaca, serta Iga Harimau Api, yang tampak mengeluarkan sedikit asap karena teknik masak khusus yang digunakan. Selain itu, masih banyak aneka makanan yang sudah tidak mereka ingat lagi namanya karena banyak yang dipesan. Namun Jelita saat menghitung jumlah makanan, dia merasa jumlah menu makanan yang disajikan melebihi jumlah yang mereka pesan.

Setelah semua makanan tersaji, pelayan pria itu sedikit menunduk dengan sopan. "Tuan dan Nona, ini pesanan Anda. Selain itu, ada tambahan menu khusus sebagai hadiah dan permintaan maaf dari pemilik restoran."

Jelita menatap hidangan tambahan itu dengan heran. "Hadiah?"

Pelayan itu mengangguk. "Nyonya Chen Xue ingin meminta maaf atas kejadian tadi. Juga, saya secara pribadi ingin meminta maaf atas sikap kurang menyenangkan rekan-rekan saya sebelumnya. Itu tidak seharusnya terjadi."

Lynx yang sejak awal sudah memperhatikan pelayan ini tersenyum tipis. Ia menyukai karakter orang ini—sejak mereka masuk, pria itu tetap profesional dan sopan, tidak seperti pelayan lain yang mudah menghakimi pelanggan berdasarkan penampilan.

"Bagus," kata Lynx santai. "Selama makanan ini enak, aku tidak masalah dengan hal lainnya."

Pelayan itu tersenyum lega sebelum mundur dengan hormat, membiarkan mereka menikmati hidangan.

Jelita segera mengambil sumpit dan mencicipi Bebek Kristal Seribu Rasa. Begitu gigitan pertama masuk ke mulutnya, matanya melebar. "Ini enak sekali!" serunya dengan kagum. Dia benar-benar sangat mengagumi cita rasa masakan yang ada di dunia itu. Meskipun sudah tiga tahun ada di dunia kultivasi, dia tidak pernah mencoba merasakan masakan yang ada. Baginya, makan untuk hidup, sehingga apa saja yang bisa dimakan, sudah cukup baginya. Dan dia memprioritaskan semua uang yang dimiliki untuk kesembuhan Lynx.

Lynx mulai makan dengan santai, menikmati setiap hidangan yang tersaji. Suasana di meja makan perlahan mereda, hingga Jelita akhirnya membuka suara.

"Xiao Ling, apakah di dunia ini banyak orang seperti Huo Tao?" bisiknya pelan. "Menjijikkan."

Lynx hanya mengangkat bahu. "Di dunia ini, ada yang kaya dan ada yang miskin. Orang kaya sombong seperti dia sudah biasa, di mana-mana ada. Tidak perlu dipikirkan terlalu dalam."

"Tapi dia menatapku seolah aku barang yang bisa dibeli," ujar Jelita, nada suaranya dipenuhi rasa tidak suka. "Aku benci tatapan itu. Dan pelayan wanita tadi… membuatku benar-benar marah."

Lynx tersenyum tipis. "Kalau mereka coba macam-macam lagi, aku pastikan mereka akan menyesal."

Jelita mendesah, lalu menatap Lynx dengan raut serius. "Xiao Ling, pemuda sombong tadi bernama Huo Tao. Apakah dia ada hubungan dengan Huo Jun? Aku dengar di dunia ini, setiap orang punya nama keluarga. Itu juga alasan Nyonya Yun memberiku nama keluarganya."

Lynx meletakkan sumpitnya dan menatap Jelita. "Ya, kebanyakan orang di dunia ini punya nama keluarga, tapi bukan berarti jika nama depan mereka sama, mereka punya hubungan, karena banyak nama keluarga yang sama. Jadi ada kemungkinan Huo Tao dan Huo Jun bukan berasal dari keluarga yang sama."

Jelita menggigit bibirnya pelan. "Tidak hanya Huo Jun, sekarang Huo Tao juga punya sifat yang sangat mengesalkan."

Lynx terkekeh pelan. "Itulah dunia ini. Tapi kalau mereka berani macam-macam, kita juga tidak akan tinggal diam."

Jelita menghela napas panjang. "Orang-orang seperti mereka membuat segalanya terasa lebih rumit. Tetapi aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkanku."

Lynx tersenyum samar. "Bagus. Karena itu kamu harus tekun berlatih Kultivasi."

Jelita lalu teringat sesuatu. "Xiao Ling, Tadi mengenai Leena… Aku benar-benar melihat seseorang yang mirip dengannya. Wajahnya terlihat sama. Apakah mungkin ada orang lain yang mirip dengannya di kota ini?"

Lynx menghela napas, berpikir sejenak. "Bisa saja hanya kebetulan. Aku tidak melihatnya langsung, jadi sulit memastikan. Selain itu aku sudah berusaha mencarinya. Jika memang dia ada di kota ini, pasti kita akan segera menemukannya."

Jelita masih tampak ragu, tapi ia memilih untuk tidak memperpanjangnya.

